Jumat, 18 November 2011

Inovasi Teknologi Budidaya Tebu Double Kinerja


Inovasi Teknologi Budidaya Tebu Double Kinerja
 Permasalahan utama industri gula saat ini adalah pada  masalah onfarm atau masalah produktivitas tebu yang relatif  masih rendah. Masalah onfarm menjadi skala prioritas dan perhatian utama dari pemerintah  karena produksi  tebu tidak saja melibatkan banyak petani tebu rakyat  tetapi  juga menyangkut ketersediaan bahan baku utama industri gula nasional .
Para pelaku usaha industri  gula pada umumnya masih pada peningkatan produksi bukan kelipatan produksi hal ini disebabkan pola desain produksi masih mengacu pada pola yang sudah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu ( back to basic).
Melalui faktor-faktor yang dapat diukur dan bisa dikembangkan seperti :
  • Pola bukaan (jarak tanam, lebar guludan, jumlah laci)
  • Agro input (pupuk organik dan anorganik, varietas dan jumlah bibit, katalisator) dilakukan inovasi  rakitan tehnik budi daya atau  desain produksi  tepat guna untuk melipatkan produktivitas (back to future).
Sesungguhnya rakitan teknologi budidaya tebu pola Double Kinerja lebih mengarah pada suatu visi untuk kelipatan produtivitas gula nasional demi memenuhi program swasembada gula nasional, sehingga program ini di targetkan untuk  sasaran kristal 100 ku/ha
Tujuan dari penerapan inovasi Teknologi Budidaya Tebu Double Kinerja adalah untuk:
  Mengoptimalkan potensi lahan  tebu yang semakin terbatas
  Melipatkan produktivitas gula di lahan  lahan kering.
  Menambah daya saing terhadap komoditas pertanian lain
  Meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan
   pendapatan pabrik gula dengan penekanan harga pokok produksi
  Menghindari ketergantungan importasi gula
  Mempercepat pencapaian swasembada gula nasional & ketahanan pangan nasional.

Dalam rangka mendukung tercapainya Swasembada Gula Nasional Tahun 2014, maka kegiatan pengembangan tanaman tebu pada tahun 2011 dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian salah satunya adalah penerapan teknologi Double Kinerja dengan cara pembuatan Demonstrasi Plot (Demplot). Dimana prioritas demplot Double Kinerja MT.2011-2012 dilaksanakan pada wilayah pengembangan tebu dengan produktivitas dibawah rata-rata. Adapun pelaksanaan demplot mempunyai persyaratan sebagai berikut :
  Demplot dilaksanakan pada lahan tegalan (pengairan tadah hujan),
   mudah transportasi, di wilayah sentra pengembangan tebu/wilayah bukaan baru
  Demplot dilaksanakan dalam 1 hamparan (maks 2 lokasi dalam 1 desa)
  Menggunakan bibit bersertifikat
  Melakukan uji analisa tanah
  Bukan kelompok tani bentukan baru.

Sasaran teknologi budidaya double kinerja adalah terbangunnya kebun tebu percontohan diwilayah sentra produksi tebu rakyat, penerapan paket teknologi budidaya tebu spesifik   secara tepat dan benar dalam kelompok hamparan untuk mendorong peningkatan produksi, menghasilkan bahan baku tebu yang ber kualitas bagi PG, dan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani tebu.
Adapun indikator keberhasilan yang diharapkan dari pelaksanaan demplot double kinerja ini adalah tercapainya produktivitas tebu minimal  117ton/ha, produktivitas guka 10 ton/ha, rendemen 8,5%, tersedianya bahan baku berkualitas untuk industri gula, dan meningkatkan pendapatan petani peserta demplot.

Pelaksanaan Demplot Double Kinerja
Langkah pertama yang harus dijalankan di lapangan  dalam melaksanakan program  demplot tebu rakitan tehnologi budidaya double kinerja adalah analisa tanah. Hal ini sangat penting untuk mengetahui  kandungan unsur hara serta pH tanah. Dari sample tanah yang diambil contoh pH nya untuk pabrik gula di jawa tengah  hampir  semua rata-ratanya dibawah 6.5. Salah satu penyebab rendahnya penyerapan pupuk adalah rendahnya pH tanah unsur K  merupakan bagian sangat penting dalam proses assimilasi sehingga menjadi kunci dalam proses pembentukan gula. Tetapi selama ini justru penggunaanya masih kurang diperhatikan.oleh karena itu dalam program ini pemberian unsur hara  K  relativ lebih dari pada  program T R I .
Dari hasil analisa tanah dapat diketahui baik kandungan Unsur hara maupun ph nya. Mengingat sample tanah yang pernah diambil di hampir seluruh wilayah lahan tebu jawa tengah menunjukan ph  dibawah netral, serta kandungan unsur hara maupun bahan organiknya rendah. Dengan memperhatikan kondisi tanah, perubahan lingkungan, iklim( intensitas sinar matabari,curah hujan, kelembaban), yang pada realisasinya menurunkan produktivitas, dan hal ini sudah tercermin dalam profil produksi gula nasional. Maka dalam program rakitan tehnologi budi daya double kinerja ini dipersiapkan beberapa langkah perubahan untuk menyesuaikan perubahan alam tersebut. Alasan lain untuk perubahan budidaya tebu model double  kinerja adalah  masalah tingginya harga sewa lahan maupun harga tenaga kerja.setiap tahun ada kenaikan  yang cukup signifikan.

Teknik Bukaan Kebun &  Agro Input Kebun Standard Dan Kebun Pola  DK
A. Teknis Bukaan Kebun Existing KKP-E
B. Teknis Bukaan Kebun Double Kinerja
PKP Double Kinerja                                                                      
                                          
Susunan Bibit
 
Varietas Yang Digunakan
Varitas tebu yang akan digunakan pada pembangunan Demplot Tebu pola DK  terdiri dari 4 (Empat) pilihan varietas Benih Bina, yaitu sebagai berikut :
  1. BL/BR
  2. PS JT 941
  3. PS 864
  4. PS 921     
Sumber bibit disediakan oleh KPTR dengan recomendasi tim tehnis kabupaten .Apabila  KPTR tidak mampu maka PG dapat membantu pengadaan bibitnya
Usaha tebu dengan pola Double Kinerja adalah sebuah inovasi yang berbasic visi  masa depan produktivitas gula nasional. Program Demplot kebun tebu Double Kinerja diharapkan  dapat sebagai acuan program percepatan pelipatan protas pruduksi gula nasional sesuai target waktu yang telah di jadwalkan oleh pemerintah. Pola usaha tebu melalui model desain produksi Double Kinerja adalah program  nasional inisiatif dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, oleh karena itu diminta seluruh satuan kerja yang terlibat bergerak dan  bekerja penuh disiplin,sebagai wujud  dari keseriusan serta dukungan terhadap program pemerintah.

Sumber : Dirat Tansim & Gatut K

PENDAHULUAN
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Bisakah masa keemasan ini terulang kembali?
Untuk itu PT. Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu baik secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (aspek K-3).

SYARAT TUMBUH
Tanah yang cocok adalah bersifat kering-kering basah, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang dari 500 m dpl.

JENIS - JENIS TEBU
Jenis tebu yang sering ditanam POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dll.

PEMBUKAAN KEBUN
Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik
Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.
Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got - got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi.
Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, guludan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus)

TURUN TANAH/KEBRUK
Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan/dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 - 20 cm.

PERSIAPAN TANAM
- Lakukan seleksi bibit di luar kebun
- Bibit stek harus ditanam berhimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek + 70.000 per ha.
- Sebelum ditanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC NASA dosis 2 tutup + Natural GLIO dosis 5 gr per 10 liter air.
- Sebelum tanam, juringan harus diari untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.

CARA TANAM
1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi
Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.

2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibit), jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm.

3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.

WAKTU TANAM
Berkaitan dengan masaknya tebu dengan rendemen tinggi tepat dengan timing masa giling di pabrik gula. Waktu yang tepat pada bulan Mei, Juni dan Juli.

PENYIRAMAN
Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah. Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.

PENYULAMAN
1. Sulam sisipan, dikerjakan 5 - 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu.
2. Sulaman ke - 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 - 4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.
3. Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan
4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke - 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan
5. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2

PEMBUMBUNAN TANAH
> Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 - 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.
> Pembumbunan ke - 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.
> Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.

GARPU MUKA GULUD
Penggarpuan harus dikerjakan sampai ke pinggir got, sehingga air dapat mengalir. Biasanya dikerjakan pada bulan Oktober/November ketika tebu mengalami kekeringan.

KLENTEK
Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang.

TEBU ROBOH
Batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Ros - ros tebu, yang terdiri dari satu deretan tanaman, disatukan dengan rumpun - rumpun dari deretan tanaman di sisinya, sehingga berbentuk menyilang.

PEMUPUKAN
1. Sebelum tanam diberi TSP 1 kuintal/ha
2. Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas juringan dosis ± 1 - 2 botol/1000 m² dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram juringan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram 5 - 10 meter juringan.
3. Saat umur 25 hari setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5-1 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di samping kanan rumpun tebu
4. Umur 1,5 bulan setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5 - 1 kw/ha dan KCl sebanyak 1-2 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di sebelah kiri rumpun tebu.
5. Untuk mendapatkan rendemen dan produksi tebu tinggi, semprot POC NASA dosis 4 - 6 tutup dicampur HORMONIK 1 - 2 tutup per-tangki pada umur 1 dan 3 bulan

HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama Penggerek Pucuk dan batang
Biasanya menyerang mulai umur 3 - 5 bulan. Kendalikan dengan musuh alami Tricogramma sp dan lalat Jatiroto, semprot PESTONA / Natural BVR

2. Hama Tikus
Kendalikan dengan gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu

3. Penyakit Fusarium Pokkahbung
Penyebab jamur Gibbrella moniliformis. Tandanya daun klorosis, pelepah daun tidak sempurna dan pertumbuhan terhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan dari daun ke batang. Penyemprotan dengan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasir dalam tangki semprot 14 atau 17 liter pada daun-daun muda setiap minggu, pengembusan tepung kapur tembaga ( 1 : 4 : 5 )

4. Penyakit Dongkelan
Penyebab jamur Marasnius sacchari, yang bias mempengaruhi berat dan rendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar ke dalam. Pengendalian dengan cara penjemuran dan pengeringan tanah, harus dijaga, sebarkan Natural GLIO sejak awal.

5. Penyakit Nanas
Disebabkan jamur Ceratocytis paradoxa. Menyerang bibit yang telah dipotong. Pada tapak (potongan) pangkas, terdapat warna merah yang bercampur dengan warna hitam dan menyebarkan bau seperti nanas. Bibit tebu direndam dengan POC NASA dan Natural GLIO.

6. Penyakit Blendok
Disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas albilincans Mula-mula muncul pada umur 1,5 - 2 bulan setelah tanam. Daun-daun klorotis akan mengering, biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjang garis-garis tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergaris-garis hijau dan putih. Rendam bibit dengan air panas dan POC NASA selama 50 menit kemudian dijemur sinar matahari. Gunakan Natural GLIO sejak awal sebelum tanam untuk melokalisir serangan.

RENDEMEN TEBU
Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang.
Usahakan agar tebu ditebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu sekitar bulan Agustus atau tergantung jenis tebu. Tebu yang berumur 10 bulan akan mengandung saccharose 10 %, sedang yang berumur 12 bulan bisa mencapai 13 %.

TEBU KEPRASAN
- Yaitu menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang, baik bekas tebu giling atau tebu bibitan (KBD).
- Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Sebelum mengepras , sebaiknya tanah yang terlalu kering di airi dulu. Kepras petak - petak tebu secara berurutan. Setelah dikepras siramkan SUPER NASA (dosis sama seperti di atas). Lima hari atau seminggu setelah dikepras, tanaman diairi dan dilakukan penggarapan (jugaran) sebagai bumbun ke-1 dan pembersihan rumput - rumput.
- Lakukan penyemprotan POC NASA dan HORMONIK pada umur 1,2 dan 3 bulan dengan dosis seperti di atas.Pemeliharaan selanjutnya sama dengan tanam tebu pertama.

RENCANA ANGGARAN

Rekap Rencana Anggaran :
= Biaya budidaya             Rp. 18.640.000,00
= Biaya tenaga kerja       Rp.   2.290.000,00
= Biaya Tebang Angkut    Tergantung asumsi hasil produksi. Biaya TA apabila masih dalam Propinsi DIY sebesar kurang lebih Rp. 7.000,00 per kuintal, sedang apabila budidaya dilakukan di luar Propinsi DIY/ jauh dari PG Madukismo terjadi peningkatan biaya TA. Dalam asumsi kita ambil Rp. 10.000,00 per kuintal tebu giling.

ANALISA LABA/RUGI PANEN I :

A.   Asumsi = produksi tebu 800 kuintal, rendemen 7,10 %, harga lelang gula Rp. 8.500,00
       1.    Produksi tebu : 800 kuintal
       2.    Rendemen 7,10 % = 56,8 kuintal natura, 34 % hasil untuk ongkos giling
       3.    Hasil gula     : 66% x 56,8 ku x Rp. 850.000,00 = Rp. 31.864.800,00
       4.    Hasil tetes    : 2.000 kg x Rp. 1.000,00 = Rp. 2.000.000,00
              Jumlah         : Rp. 33.864.800,00
              LABA        = (PENDAPATAN – BIAYA BUDIDAYA) – (Biaya TA = Rp. 10.000,00 x T)
                              = (Rp. 33.864.800,00 – Rp. 20.930.000,00) – Rp. 8.000.000,00
                              = Rp. 4.934.800,00

              Parameter Kelayakan Usaha :
              a.    Benefit of Cost Ratio (B/C rasio)    = 33.864.800 : 28.930.000 = 1,17
              b.    Return of Investment (ROI)            =   4.934.800 : 28.930.000 = 0,17

B.   Asumsi = produksi tebu 800 kuintal, rendemen 8,0 %, harga lelang gula Rp. 8.500,00
       1.    Produksi tebu : 800 kuintal
       2.    Rendemen 8,0 % = 64 kuintal natura, 34 % hasil untuk ongkos giling
       3.    Hasil gula     : 66% x 64 ku x Rp. 850.000,00 = Rp. 35.904.000,00
       4.    Hasil tetes    : 2.000 kg x Rp. 1.000,00 = Rp. 2.000.000,00
              Jumlah         : Rp. 37.904.000,00
              LABA        = (PENDAPATAN – BIAYA BUDIDAYA) – (Biaya TA = Rp. 10.000,00 x T)
                              = (Rp. 37.904.000,00 – Rp. 20.930.000,00) – Rp. 8.000.000,00
                              = Rp. 8.974.000,00

             Parameter Kelayakan Usaha :
             a.    Benefit of Cost Ratio (B/C rasio)     = 37.904.000 : 28.930.000 = 1,31
             b.    Return of Investment (ROI)             =   8.974.000 : 28.930.000 = 0,31
………………………………………………………………………........................................................
ANALISA LABA/RUGI PANEN II (TUNASAN I) :
Produksi tebu biasanya meningkat. Namun jika asumsi produksi tetap, rendemen sama dan harga lelang gula di pabrik tetap sama seperti Panen I maka besarnya pendapatan dan biaya tebang angkut sama. Sedang untuk biaya budidaya berkurang dalam pembelian bibit, sewa traktor dan upah tenaga tanam dengan total Rp. 7.150.000,00. Misalkan dengan asumsi produksi tebu 800 kuintal, rendemen 8,0 %, harga lelang gula Rp. 8.500,00, maka
LABA            = (PENDAPATAN – BIAYA BUDIDAYA) – (Biaya TA = Rp. 10.000,00 x T)
                    = (Rp. 37.904.000,00 – Rp. 13.780.000,00) – Rp. 8.000.000,00
                    = Rp. 16.124.000,00

                   Parameter Kelayakan Usaha :
                   a.    Benefit of Cost Ratio (B/C rasio)     = 37.904.000,00 : 21.780.000     = 1,74
                   b.    Return of Investment (ROI)             =      16.124.000 : 21.780.000     = 0,74

ANALISA LABA/RUGI PANEN III (TUNASAN II Dst)
Produksi tebu biasanya menurun sekitar 10%. Cara menghitung analisa laba/rugi sama seperti Tunasan I.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar